PandoraBox: [Calciopoli] Hey, you know what ?... I’ll stick to my team, no matter what.
Demo Blog

[Calciopoli] Hey, you know what ?... I’ll stick to my team, no matter what.

by Sapto Mexavriand kategori :

Kisah ini telah direncanakan selama hampir 10 tahun dan tidak memiliki hubungan apapun dengan sepakbola, melainkan dengan uang, kekuasaan, dan politik.
Bagaimanapun, bukti paling kuat yang Anda bisa dapatkan ada pada membaca pernyataan-pernyataan dan dakwaan-dakwaan yang dibuat oleh para hakim yang memimpin peradilan dan banding (kasus ini). Kebanyakan fans Juventus dan Anti-Juventus (khususnya yang berada di luar Italia) tidak mengetahui sama sekali bahwa tidak ada secuilpun bukti yang ada yang menghubungkan Moggi dan kawan-kawannya dengan satu saja pertandingan yang diatur. Kebanyakan orang tidak sadar akan deklarasi/pernyataan para hakim bahwa, “tidak ada pertandingan yang diatur dan pemilihan wasit juga legal” Cesare Ruperto, hakim CAF.
Jadi, mengapa dihukum? Sama membingungkannya, mengapa (AC) Milan (hanya) mendapatkan cubitan pada bahu setelah Meani mengancam seorang wasit penjaga garis melalui telepon,
“Apabila Milan ada di lapangan biarkan benderamu turun kecuali bola ada di sisi lapangan yang berbeda, kalau tidak kami akan menyembelih kepalamu!”
Mengapa seorang investor Inter (Milan) dan eks pegawai Inter dibiarkan untuk mengontrol peradilan ini? Orang ini, Guido Rossi, bukan hanya mennghilangkan bukti yang akan dapat membebaskan Juventus tetapi juga mengabaikan bukti yang dapat mencekal eks majikannya (Inter).

Apakah orang-orang tahu bahwa ada bukti rekaman telepon Udinese dan Milan mengatur sebuah pertandingan (agar berakhir seri, -ed.). Apakah orang-orang tahu bahwa ada bukti rekaman telepon Galliani dan Collina bertemu secara pribadi berjam-jam di restoran Meani? Apakah orang-orang tahu bahwa orang yang sama yang mensponsori sepakbola Italia melalui kepemilikannya terhadap TIM Mobile dapat berhasil menyadap panggilan-panggilan telepon yang pada gilirannya digunakan untuk menghabisi Juventus? Apakah mereka tahu bahwa dia memberikan rekaman-rekaman tersebut kepada partnernya (Moratti) secara ilegal melalui seorang petugas polisi yang mengamankan penyadapan itu dan kemudian memerintahkan agar itu semua dihilangkan atau dimusnahkan untuk menjaga agar tidak ada yang dapat digunakan melawan Inter?
Pada akhirnya seorang pegawai keamanan pada Telecom Italia mengakui adanya rekaman-rekaman penyadapan “yang mencurigakan” dan petugas polisi tadi pun melakukan bunuh diri pada 21 Juli 2006 (namanya adalah Adamo Bove). Apakah ada orang yang tahu bahwa rekaman-rekaman penyadapan ketika itu tidak pernah diperdengarkan di dalam pengadilan meskipun tim pembela Juventus memohon untuk itu? Demikian juga ketika Juventus meminta untuk menggunakan bukti video, itu juga ditolak.

Orang-orang berada dalam kegelapan mengenai kasus ini karena adalah nyaman dirasa bagi sebagian orang untuk mempercayai tim mereka kalah karena ada pihak lain yang curang... yang lainnya tidak menyengaja dalam kegelapan karena bukti-bukti yang ada amat sulit untuk dicari dan berat untuk dipahami (kecuali Anda mahir dalam bahasa Italia). Hasilnya, saya telah mempertimbangkan untuk menulis sebuah buku dalam bahasa Inggris berkaitan dengan kasus ini (sekarang dikenal di Italia sebagai “Farsopoli”—artinya ‘Skandal Sandiwara’). Saya mempertanyakan tingkat dari public interest (maksudnya, ‘apakah orang-orang benar mau menghabiskan waktu untuk mendengarkan ini semua?’, -ed.). Akan memakan waktu berbulan-bulan untuk mengumpulkan ini semua dan saya akan benci melakukannya untuk hal yang sia-sia belaka. Untuk saat ini jangan segan untuk bertanya kepada saya apa saja yang kamu inginkan dan saya akan melakukan apa yang bisa saya lakukan untuk menerangi gulita dalam situasi ini. Saya akan sangat senang untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan Anda.


Berikut ini adalah beberapa nama dalam posisi-posisi kekuasaan untuk dapat memberikan penggambaran kepada Anda:
- Presiden FIGC (pada waktu itu): Franco Carraro (eks-Presiden Milan dan co-owner dari Lazio/Roma melalui kontrolnya terhadap Capitalia Credit Bank).
- Presiden La Lega Calcio: Adriano Galliani (Wakil Presiden Milan).
- Presiden Asosiasi Wasit Italia (AIA): Tulio Lanese, teman baik dan berafiliasi dengan Silvio Berlusconi, selain juga terkenal sebagai seorang Milanista (dikenali dalam rekaman telepon sebagai Tulio “miLanese”) [sekarang AIA diketuai oleh Marcello Nicchi, sementara Collina menjadi konsultan AIA, -ed.].
- Penunjuk Wasit FIGC: Bergamo dan Pairetto yang merupakan bawahan Carraro, Lanese, dan Galliani sebagaimana dibuktikan oleh rekaman. Setelah itu Collina menduduki posisi ini setelah pertemuan rahasia bersama Galliani.
- Perdana Menteri (ketika itu): Silvio Berlusconi yang mengontrol beberapa stasiun TV, majalah, dan surat kabar, sebagaimana juga mengontrol salah satu dari partai politik Italia terbesar (Forza Italia). Melalui kepemilikan stasiun TV Berlusconi mengontrol seluruh hak siar TV sepakbola/olahraga (yang darinya dia mendapatkan banyak pemasukan) untuk seluruh tim yang berkompetisi di Serie A dan B (ini kemudian digunakan sebagai cara untuk memeras dalam rangka mempertahankan posisi Milan di jatah lolos ke Liga Champions).
- Sponsor Sepakbola Italia: Tronchetti Provera (salah satu pemegang saham terbesar Inter dan sahabat dekat Moratti), yang memiliki Telecom Italia dan anak perusahaannya TIM Mobile, yang bukan hanya menyediakan pemilik Inter Moratti dengan penyadapan telepon tetapi juga mensponsori seluruh kompetisi di Italia (Serie A TIM, Coppa Italia TIM, Supercoppa Italiana TIM). Dia juga pemilik Pirelli Tires (sponsor utama Inter) dan juga pemilik LA7 (salah satu stasiun TV Italia terbesar).
- Presiden Federcalcio (Penginvestigasi FIGC): Borelli, rekanan politik Berlusconi dan tertangkap basah melakukan pertemuan rahasia dengan Galliani selama persidangan berlangsung.
- Komisioner Federcalcio: Guido Rossi, salah satu pemilik saham terbesar Inter dan mantan Direktur Inter serta juga duduk dalam jajaran Direksi Utama Telecom Italia.
- Presiden La Gazzetta dello Sport: Carlo Bore, juga merupakan Wakil Presiden Inter.
- Editor dan Redaktur La Gazzetta dello Sport: Verdelli dan Cannavo’, keduanya pemegang saham di Inter.
- Wakil Presiden Federcalcio: Massimo Moratti, pemilik Inter.
- Komisioner Federcalcio saat ini yang sedang menginvestigasi Inter perihal Penggelapan Pembukuan Keuangan: Stefanini, juga merupakan pengacara untuk tim sepakbola La Spezia (yang 40% sahamnya dimiliki oleh Moratti).

Jadi, apakah masih terlihat seperti sebuah “Sistem yang dikontrol oleh Moggi”?

Pada akhirnya (dan percayalah, masih ada banyak lagi ‘kisah’ yang belum dijelaskan) saya ingin menginformasikan kepada Anda tentang apa sebenarnya tuduhan/dakwaan yang ditimpakan kepada Juventus. Tuduhan pengaturan pertandingan berputar pada 3 poros pertandingan. Ini adalah kunci untuk memahami kasus ini dan seluruhnya telah membuktikan betapa konyolnya kasus tersebut.

Pertandingan 1: Lecce-Parma—ya bacaan Anda benar. Pertandingan ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan Juventus tetapi pertandingan ini membuat Fiorentina bertahan di Serie A pada 2005. Tuduhannya adalah bahwa “wasit yang dikontrol Moggi,” De Santis mengatur pertandingan karena permintaan Moggi setelah Della Valle (pemilik Fiorentina) meminta kepada Moggi pertolongan. Sebenarnya Moggi tidak tahan (benci) dengan De Santis dan De Santis juga tidak tahan dengan Juventus. De Santis-lah (yang mengaku sebagai Interista) yang menganulir sebuah gol Juventus yang sah pada ajang Supercup Italia yang akhirnya membuat Juve kehilangan trofi tersebut sehingga diserahkan kepada Inter secara salah. Seluruh penyadapan telepon berkaitan dengan pertandingan ini menunjukkan Della Valle mengontak Bergamo (penunjuk wasit) dan Carraro (Presiden FIGC) dan Mazzei (Wakil Presiden FIGC) secara langsung tanpa sama sekali menyebutkan Luciano Moggi.

Pertandingan 2: Juventus-Udinese—pertandingan yang sebenarnya “diatur” adalah Udinese-Bologna pekan sebelumnya. Asumsinya adalah bahwa “wasit yang dikontrol Moggi” memberikan kartu kuning kepada para pemain Udinese yang sebelumnya telah menerima ambang batas kartu kuning sehingga mereka tidak dapat bermain melawan Juventus. Para pemain yang dihadiahi kartu kuning pada hari itu adalah Pinzi dan Di Michele. Padahal sebenarnya keduanya belum menerima kartu kuning sebelumnya dan keduanyapun ada di lapangan melawan Juventus pada pertandingan berikutnya.

Pertandingan 3: Juventus-Sampdoria—di sini tuduhan yang berkembang adalah bahwa “wasit yang dikontrol Moggi” mensahkan sebuah gol yang offside sehingga Juventus dapat melenggang dengan kemenangan 1-0 atas Sampdoria. Pertandingan itu sendiri sebenarnya berakhir 0-1 untuk Sampdoria dengan Aimo Diana mencetak sebuah gol yang offside. Hasil pertandingan tersebut masih bisa diketemukan di espn.com sampai hari ini.

Untuk menutup ini, harus digaris-bawahi bahwa baik Cesare Ruperto (hakim CAF) dan Piero Sandulli (hakim CF/Pengadilan Federal) telah menyatakan bahwa TIDAK ADA aksistensi sistem rekayasa kartu kuning direncanakan (no systems of pre-planned yellow cards existed) dan TIDAK ADA pula pertandingan yang telah diatur (no game was fixed) oleh para wasit. Juga telah ditekankan bahwa pengaturan wasit muncul sepanjang musim secara regular/normal. Atau dalam kata lain musim kompetisi itu sah/legal. Panggilan-panggilan telepon menunjukkan tindakan-tindakan tidak sportif (unsportmanlike conduct) dilakukan oleh SELURUH PIHAK akan tetapi ini adalah pelanggaran terhadap ‘Artikel 1’, yang hanya dapat dihukum dengan satu hingga 3 pengurangan poin serta juga kemungkinan denda.

Pada akhirnya, bunyi dakwaan hukuman CAF menyatakan bahwa “walaupun tidak ada pelanggaran Artikel 6 yang dapat ditemukan di dalam investigasi, kelakukan umum Moggi dan Giraudo (Antonio hanya terdengar pada 3-5 panggilan telepon, kebanyakannya tidak mengandung apapun) telah menciptakan kondisi tidak sportif yang menguntungkan Juventus pada papan klasemen SEBAGAIMANA DIBUKTIKAN OLEH FINISH PERTAMA MEREKA DI DALAM MUSIM KOMPETISI YANG DIPERSOALKAN.” Ini seperti mengatakan bahwa mengemudi adalah bukti bahwa seseorang adalah pencuri mobil. Kesimpulannya, bunyi dakwaan hukuman mencoba untuk meyakinkan kita untuk mempercayai bahwa Juventus meraih sebuah keuntungan yang tidak adil dengan tanpa mengondisikan wasit atau mengatur satu pertandinganpun... Misterius kan?

Jangan ragu untuk bertanya kepada saya pertanyaan apapun. By the way, tidak ada satupun rekaman pembicaraan antara Moggi dan seorang wasit atau penjaga garis dengan satu pengecualian: Paparesta menelepon Moggi untuk meminta maaf setelah kesalahan yang dia lakukan membuat Juventus kehilangan satu pertandingan (kalah) melawan Reggina. Moggi hanya menjawab dengan satu kalimat, “Saya tidak punya apapun untuk dikatakan kepada Anda,” dan kemudian menutup telepon.

Saya menikmati menyibakkan cahaya tentang masalah ini jadi jangan sungkan untuk menyebarkan poin-poin saya kepada yang lain dan tanya apa saja yang kamu suka.

Sebenarnya bisa disederhanakan dalam satu frasa: KONFLIK KEPENTINGAN (conflict of interest).

Ok, saya detailkan biar enggak salah paham. Liganya itu sendiri dari liga amatir sampai liga pro paling tinggi disponsori oleh perusahaan yang sama ...yang mensponsori salah satu tim di dalam liga, belum termasuk bahwa owner perusahaan tsb juga fans fanatik bahkan direktur dan salah satu pemegang saham terbesar dari tim tersebut. Mungkin ada yang bertanya, “Kok bisa?”, atau lebih bagus lagi, “Bagaimana mungkin itu bisa terjadi dan dibiarkan terus-menerus? Apa tidak ada yang berupaya merubah?” Jawabannya: WELCOME TO ITALY! Iya, semenjengkelkan itulah jawabannya! Kalau kita mau membandingkan dengan negara lain. Misalnya Inggris. EPL. Disponsori oleh siapa? Kalian aja yang jawab. Yang jelas jawabannya bukan “oleh perusahaan yang sama yang mensponsori salah satu tim di dalam liga.” Kalau ini sampai terjadi di sana, pasti akan ada huru-hara dalam dunia olahraga mereka. Bahkan di negara dengan liga sepakbola paling profesional, accountable, dan rapi seperti Indonesia... *batuk* *batuk*, hal seperti ini enggak akan terjadi (dan belum pernah terjadi sepengetahuan saya). Bisa dibayangkan kalau sponsor ISL adalah Bakrie Corp. misalnya, apa enggak di-banned tuh tim-tim seperti Pelita Jaya? Spektakulerkan Italia?

Seandainya ada teman-teman yang belum tau tentang keadaan “sebenarnya” media-media ternama Italia, ini gambaran global dari saya (kalau ada waktu mungkin kita bisa elaborasi lagi),

- La Gazzetta dello Sport. Suratkabar kota Milan, paling pop...uler & beroplah terbesar di Italia. Pemiliknya adalah Carlo Buora. Linknya ke Inter semuanya bersumber dari orang ini. Karena itu banyak redaktur-redakturnya adalah mantan direktur-direktur di Inter. Buora juga VP (wapres) Pirelli dan sekarang malah VP Telecom Italia (TI). Baik Pirelli maupun TI punya sejarah panjang dengan dua direktur Inter (Tronchetti pemilik Pirelli dan Moratti pemilik Inter sementara pada saat yang bersamaan keduanya juga duduk dalam BoD’s TI). Oh iya, calciopoli itu sendiri pada awalnya bermula dari artikel di koran pink kertas toilet ini medio Mei 2006 (perhatikan timing-nya yang di akhir kompetisi. Cute huh?) yang “katanya” mengungkapkan transkrip percakapan antara Moggi dengan beberapa penunjuk wasit. Dari sinilah “keajaiban-keajaiban” itu dimulai..

- Il Corriere dello Sport. Dari kota Roma. Koran murahan ini dimiliki oleh RCS Media Group, semacam perusahaan holding company yang presiden direkturnya adalah... Carlo Buora. Dan maaf kalau yang ini juga membosankan: redaktur-redakturnya juga direktur klub yang “ITU” juga. Mereka, sebagaimana seluruh media dari Roma, cukup punya pendekatan yangg simpatik kepada AS Roma, tapi nggak begitu klo dg Lazio.

- Il Corriere della Serra. Kurang lebihnya sama dengan Corriere della Sport, mereka dimiliki oleh RCS Media Group juga.

- Tuttosport. Ini yang paling kontroversial. Bukankah dari dulu mereka pro-Juve? Umm.. enggak juga. Dari dulu mereka pro-Torino, paling tidak dari perspektif sejarah. Coba aja lihat banner-nya. Ada sesuatu yang familiar? Mereka terkesan “pro-Juve” ya jelas lah sebabnya. Mereka kan dari Provinsi Piemonte, yang penduduknya kalo enggak Bianconeri ya Granata/Torino fans, plus ditambah mereka nggak punya pengaruh di luar region itu, jadi wajar kalo mereka ‘satu-satunya’ yang sering berbicara bagus tentang Juve, atau punya direktori khusus Juventus di websitenya misalnya, dll., dll. Tapi yang orang enggak banyak tahu adalah MEREKA TIDAK (LAGI) PRO-JUVE. Beberapa fakta spektakuler yang perlu kita ketahui:
a). FAKTA bahwa belakangan mereka diakuisisi oleh RCS Media Group. Perusahaannya si Carlo Buora tadi, orang yang sama yang juga pernah menjadi presiden Inter untuk sekian lamanya. Lagi-lagi jejaring conflict of interest semakin menjalar.
b). FAKTA bahwa beberapa waktu lalu (2007?)—dan ini adalah konfirmasi terhadap “fakta a” di atas, salah satu editor senior mereka dipaksa untuk mengundurkan diri karena dia ngotot mempertahankan/tidak mau mencabut sebuah artikel yang dia tulis yang menyerang Collina dan wasit-wasit (inti artikel itu sebenarnya mengungkapkan perlakuan tidak adil wasit-wasit, terutama Collina, thd Juve).
[FAQ] Logic Hole

Kira-kira bisakah Juve mengajukan sidang banding ke Mahkamah Internasional atas pelanggaran thd hak asasi misalnya (scudetto yg dirampas)?? saya kira kekuasaan mafia gak akan nyampe kesana...
soalnya pencoretan scudetto ini pun saya rasa ua...neh bin ajaib... 2 scudetto Juve dicabut, satu dihibahkan ke klub-yg-udah-lama-gak-ngerasain-scudetto dan satunya lagi dicoret (tidak ada pemenang).. kenapa ga dicoret dua-duanya ato dihibahkan dua-duanya?? dan kenapa piala aslinya ga diambil dari lemari Juve dan dikasihkan ke merda?? kan aneh??
-------------------------------------------------------------------------------
Tentang Mahkamah Internasional, saya tidak tahu apa sidang niaga juga bisa dilangsungkan di situ. Kalau iya, maka di atas kertas bisa-bisa saja. Perlu diketahui bahwa target Giu le Mani dalla Juve dan Moggi adalah European Court of Commerce, seandainya bandingnya pun ditolak di situ, maka kasus ini akan terus dibawa ke tingkat yang lebih tinggi lagi. Yang jelas, kita optimistis selama kasus ini diselesaikan di luar Italia hasilnya akan lebih adil, bahkan bisa dijadikan titik-tolak dalam menghancurkan sistem konflik kepentingan di Italia. Oh iya, yang dituntut dalam materi banding bukan hanya dua scudetto yang dirampok yah? Tetapi yang justru lebih penting menurut saya, nama baik/image damage, financial restitutions (ganti rugi finansial), dll. Untuk financial restitution sejauh ini estimasi angkanya masih belum jelas, ada yang bilang 250 juta euro—yang mana saya sangat ragukan sekecil itu, ada yang bilang 2X lipatnya, 3X, bahkan 4X lipatnya!
Kita semua tahu selama persidangan Juventus tidak pernah kalah tapi tetep divonis bersalah karena semua juri persidangan adalah orang-orang pilihan yang ditunjuk sendiri oleh presiden FIGC waktu itu .

~ kenapa kok cuman sebulan udah bisa... mutusin masalah besar seperti ini ? karena FIGC diancam oleh FIFA supaya cepet dituntaskan masalah ini atau Italia dicoret kepersertaannya dari Piala Dunia 2006 .

~ Kenapa kok "cuman" Juventus yang dilempar ke seri-B ? ya itu lagi . alesan ekonomi . kalo semua di degrasi ke seri-B popularitas serie-A bakalan hancur . [Juventus rencananya bakalan dilempar ke C1 kalo ga salah. CMIIW.]

----------------------------------------------------------------------------------
~ Betul! Tapi bukan oleh presiden FIGC, oleh komisioner Federcalcio, Guido Rossi.

~ Betul lagi!

~ Alasan ekonomi masuk di akal, tapi bukan alasan yang paling kuat. Siapa yang mau mereka degradasi? Fiorentina, Lazio, Roma punya representasi kuat dan enggak akan semudah itu menghukum mereka. Milan? Hahaha.. bisa bangkrut itu semua klub Italia, karena mereka kan bergantung dengan TV rights yang dikuasai Mediaset, perusahaan raksasa media milik Berlusconi (pendapatan dari sponsorship hanya secuil dibandingkan uang hak siar TV). Berlusconi mengancam mereka enggak akan kebagian kue kalau Milan tidak diikutsertakan ke CL tahun itu, apalagi degradasi.

FYI, yang mengatakan Juve berhak akan Serie C1 adalah tink-tank dua merda dan.. ini yang menyedihkan.. Juventus sendiri dalam hal ini Gigli, Blanc, dan khususnya ketua tim pengacara Juve yang direkrut seadanya dari FIAT Zaccone, dan kalau tidak salah juga J. Elkann. Ketika seluruh dokumen dibuka ke publik, kita bertanya ke Zaccone 'apa yang bisa membuat Juventus dijebloskan ke Serie C?' Dia hanya bisa diam. Belakangan ketika seluruh tim kecuali Juve "diselamatkan" baru orang-orang ini bangun dari tidurnya. Semuanya sudah menjadi bubur ketika itu, apalagi setelah banding mereka ke TAR mereka (dengan kurang ajar) tarik kembali. Lucunya, sekarang ada orang-orang yang memuji mereka sebagai 'penyelamat Juventus'.  
1. Apa semua orang italia sebodoh itu?? Menerima hasil keputusan pengadilan yang tidak sesuai dengan hasil investigasi??
2. Klo memang semua sedemikian adanya dokumen persidangan, apa yang membuat juventus berdiam diri dan tidak melawan?? B...ukankah artinya juventus diputuskan bersalah tanpa adanya bukti?
3. Klo memang semua sedemikian adanya dokumen persidangan, mengapa juventus membuat kesan seakan-akan membutuhkan bukti lain untuk melawan?? seperti menunggu pernyataan moggi atau vieri?? bukankah hasil investigasi dipersidangan sudah cukup membuktikan bahwa juve ga bersalah?

-----------------------------------------------------------------------------------
1. Masalahnya bukan bodoh atau tidak bodoh tapi mau atau tidak mau. Persentase kasar orang Italia dari perspektif sepakbola adalah, 30% Juventini, 30% Milanisti & Internisti, 30% pendukung tim-tim lain lain, 10% bukan penggemar sepakbola (survei terakhir pasca-calciopoli dilakukan salah satu lembaga penelitian Harvard University, USA). Nah, kita semua sudah tahu bahwa 60-70% orang Italia bukan saja tidak menjadi penggemar Juve, tapi juga membenci Juve sampai ke tulang sumsum. Ketika calciopoli muncul, setelah sebelumnya mereka dicekoki oleh sekian banyak kasus yang melibatkan Juve di era Moggi ditambah dengan propaganda sangat masif tentang stereotip Juve mafia/korup/pencuri yang ditempelkan Gazzetta, Corriere, RAI, SKY, dll., kira-kira apa yang akan mereka lakukan? Apakah masuk di akal kalau mereka akan membela Juve, melakukan investigasi kecil-kecilan, atau setidaknya mau untuk sedikit kritis dengan mempertanyakan bukti??? Sebahagian kecil dari mereka memang iya (terutama fans tim-tim kecil/provinsial), tapi sebagian besarnya tentu saja tidak. Surprise surprise.

Dokumen baru dipublikasikan beberapa waktu setelah skandal selesai dan mereka juga tidak ambil pusing untuk membacanya. Untuk apa? Paling isinya ‘Moggi membayar wasit, bla bla bla...’ Gitu aja kok repot. Oh iya, apa saya sudah bilang kalau dakwaan hukuman pengadilan sudah dipublikasikan di kertas toilet pink La Gazzetta tiga hari sebelum itu ditetapkan/dibacakan secara resmi di persidangan? Kebetulan? I don’t think so.

Kesimpulannya ini adalah masalah bagaimana membentuk opini publik melalui propaganda media, adapun detail-detail selanjutnya sudah di-design dengan sangat rapi oleh pihak-pihak yang mempunyai kepentingan & musuh yang sama. Intelegensia menjadi tumpul ketika unsur perasaan yang dimainkan. Kita juga tidak boleh lupa bahwa karakter-sifat khas orang Italia adalah dramaqueen. [Mayoritas] mereka seperti ibu-ibu PKK, pekerjaannya setiap hari adalah mendramatisasi segala sesuatu, gosip, ngerumpi, cerita sana-sini, si anu berkata begini-si itu berkata begini, dst. Inilah yang terjadi di dalam rumah, kantor, restoran, café, TV, radio, suratkabar, dst.

Pada era modern-informasi seperti saat ini, cara paling mudah meng-highlight karakter sosial-budaya yang dianut sebuah bangsa/entitas adalah dengan melihat muatan media-media mereka. Saya mau ambil contoh yang paling eksplisit, TV. Kalau di Indonesia terbagi rata ke dalam acara-acara horor, infotainment, diskusi-debat politik dan eksploitasi seks, maka di Italia yang paling mendominasi adalah acara analisis sepakbola. Apa sih yang mereka bicarakan di sana? Kita yang kurang familiar mungkin akan mengira sama saja seperti bincang-bincang sepakbola di Indonesia. Sama sekali tidak. Mereka mendramatisasi seluruh hal. Ketika dalam salah satu pertandingan giornata kemarin ada gol yang dianulir wasit karena offside misalnya, maka sebuah acara X akan memutar rekaman gol itu dari puluhan sudut pengambilan kamera kemudian mengundang sekian banyak pembicara untuk menganalisis sampai berbusa-busa untuk jangka waktu satu atau dua jam. Selesai? Belum. Besoknya, acara yang sama akan mengundang pembicara yang lain dan kita mulai lagi dari awal. Selesai? Belum juga. Ini masih berlangsung terus berhari-hari sampai giornata berikutnya dimulai lagi, dan pekan berikutnya masih ada saja yang menganalisis insiden itu tadi, dst. Ini adalah fenomena umum di kebanyakan channel, bahkan biasanya mereka menguasai waktu primetime (18.00 s.d. 22.00). Bayangkan kalau skandal sebesar calciopoli terjadi, dan lebih bagus lagi, ia menimpa "tim yang paling dicintai di Italia", Juventus (tolong dihidupkan radar sarkasmenya). Selamat datang di Italia.

2. Karena mereka terlalu pengecut, naif dan bodoh, selain juga ada indikasi yang sangat kuat tentang permainan kepentingan rahasia di Turin itu sendiri. Pada waktunya akan saya posting secara khusus.

3. Juventus tidak melawan, bung. Juventus, dalam hal ini pemilik dan manajemen baru ketika itu, memilih untuk (maaf) diperkosa habis-habisan. Maaf, saya tahu ini sulit untuk dimengerti tapi saya perlu memposting tentang topik lain dulu sebelum masuk ke pembahasan permainan orang dalam.

Juventus juga tidak menunggu pernyataan Moggi, apalagi Vieri. Mereka tidak peduli dengan Moggi karena terlalu sibuk membersihkan image Juve dari “mafia, cheater, ladri, kurang senyuman (mengutip istilah Jaki & Lapo), (selalu) menang dengan mentalitas pemenang” dsb. ke “simpatik, murah senyum, bersahabat (dengan siapa saja), lebih banyak kalah (tapi tetap hadir di konferensi pers dengan senyuman)” dsb. Mereka ingin menjadikan Juventus sebagai “orang baik-baik” (lebih tepat sebenarnya, Nice guy finish last, orang baik yang selalu finish belakangan...).
Jadi, sekarang saya balik bertanya kepada semuanya, dengan seluruh kerendahan hati, apakah mungkin kita bisa mendapatkan potongan-potongan puzzle yang membantu (baca: valid) tentang apa itu calciopoli hanya dengan semata-mata mengandalkan p...emberitaan/artikel dari koran-koran itu tadi? Atau sama anehnya, berharap Juventini di Indonesia ini yang haus akan “kebenaran” dibantu dicukupkan hanya dengan mem-posting koran-koran sampah itu tadi? Kalau kita semua menjawab dengan jujur maka kita bisa kembali ke poin yang saya singgung sebelumnya (tentang kebutuhan kita terhadap penelitian mendalam).
Di sini Anda dapat menemukan dokumen persidangan resmi FIGC (dalam bahasa Italia):
http://www.figc.it/italiano/comunicati_ ... luglio.htm
Link ke-3 ke bawah.

----------------------------------------------------------------------------------
Ini... adalah artikel yang merangkum seluruh perkara-perkara melanggar hukum di dalam persidangan (termasuk tidak diperbolehkannya untuk mendengarkan rekaman):
http://www.ju29ro.com/farsopoli/38-i-processi-fuorilegge.html
*belajar bahasa italie dulu yow...
   
Kesimpulannya,,,
Kita harus belajar mengakui bahwa masalah2 seperti ini nggak bisa dikuasai hanya dengan membaca situs-situs berita; dan atau selesai begitu aja dengan mem-posting artikel2 penting untuk kemudian hanya dibaca+diliatin tapi en...ggak ada yang benar2 menunjukkan: arah pembicaraan artikel itu apa; implikasinya apa terhadap keseluruhan puzzle kasus ini; technicalities di dalam artikel itu, pendetailan-elaborasi yang relevan terhadap poin-poin di dalamnya, bla bla bla.. Kita butuh penelitian mendalam dari orang-orang yang memang memiliki akses langsung ke sana, seperti entitas legal Giu le Mani dalla Juve misalnya, yang benar-benar serius memperjuangkan nasib Juventus. Terlebih lagi ini masalah hukum, yang berkaitan dengan aset bernilai ratusan bahkan ribuan juta euro, belum lagi sejarah dan hak yang sama di depan hukum.
 
 
Share



Baca Artikel Terkait Lainnya:

1 komentar Read More ...

1 komentar

  • Mighty Pirates

    mantavvvv bongkar teruus, walau saya bukan juventini, (fans untuk tim dari negara lain), tapi saya dukung yg bener bener aja, terima kasih telah memberikan infonya, pak. Tetap semangat juventini !!!


Posting Komentar

Looking for something?

Use the form below to search the site:

Still not finding what you're looking for? Drop a comment on a post or contact us so we can take care of it!