PandoraBox: Madesu (Masa depan Suram)...
Demo Blog

Madesu (Masa depan Suram)...

by Sapto Mexavriand kategori :

Kampungan memang, intelektual muda itu saling melempar batu dan berucap sumpah serapah. Satu pihak mengejar, lainnya lari pontang-panting.

Melihat para jagoan saling menyerang, sedikit mendapat hiburan, tontonan gratis, dan bisa menjadi sumber berita buat wartawan, sayangnya berita memalukan.

Yang menjadi pertanyaan, mengapa mahasiswa yang seharusnya menjunjung tinggi etika dan mempunyai tatanan kehidupan yang disebut masyarakat ilmiah cenderung memilih cara kekerasan dalam menyelesaikan masalah.


1. Budaya tawuran dibawa dari SMA dipraktekkan di dunia kampus. Seperti kita ketahui, tawuran merambah dunia SMA tahun 90-an. Pola primitif SMA masih tidak hilang walaupun sudah duduk di bangku kuliah. Boleh dikatakan, wujudnya mahasiswa tapi mentalnya SMA.
2. Di sekitarnya para mahasiswa sering mendengar dan melihat penggunakan cara-cara kekerasan dalam usaha menyelesaikan masalah. Mulai dari gedung DPR, preman sampai pembela agama seperti FPI.
3. Tidak ada, jika ada pun sedikit, ajang-ajang yang melibatkan mahasiswa-mahasiswa antar kampus, jalinan antar mahasiswa beda universitas sangat renggang.

4. Budaya hedonisme yang berkembang, hura-hura dan senang.

5. Tidak tumbuhnya budaya penelitian dan pengembangan karakter di dunia kampus. Tidak ada kebanggan yang bisa dinilai secara akademis. Yang ada ada ada kebanggan otot.

6. Praktek belajar mahasiswa yang mekanis. Datang, duduk, diam di bangku kuliah. Hanya mengejar kelulusan, syukur dapat nilai tinggi, supaya mudah diterima di dunia kerja. Aspek humaniora dan dialektika dalam mengejar ilmu diabaikan. Ditunjang kurikulum yang kaku, yang berorientasi kapital.
7. Runtuhnya organisasi mahasiswa yang mampu melatih dan mengasah kemampuan bermasyarakat.
8. Narkoba telah sedemikian dalam masuk dalam linkungan kampus. Segala hal negatif yang dibawa narkoba pun ikut menyertainya.
9. Yang ada adalah macan-macan kampus, tapi bermental dekil. Bergaya jagoan tapi meyelesaikan perkara secara primitif. Menjadikan kampus bukan tempat belajar, tapi untuk duduk-duduk manis sambil menunjukkan kalau dirinya hebat. Tidak ada yang dibanggakan lagi selain menundukan musuh. Hal yang sepele pun dijadikan sarana untuk menyerang.

Mahasiswa yang dianggap sebagai kaum intelektual saja sudah tidak mampu menjaga intelektualitasnya dalam menghadapi masalah, apalagi dengan masyarakat awam? Share



Baca Artikel Terkait Lainnya:

0 komentar Read More ...

0 komentar


Posting Komentar

Looking for something?

Use the form below to search the site:

Still not finding what you're looking for? Drop a comment on a post or contact us so we can take care of it!